Tidak Harus Punya Semua Jawaban: Mahasiswa Ukrida Belajar Hadir bagi Mereka yang Membutuhkan

Publish by Humas  |  24 September 2026  |  4

all psikologi

Mahasiswa Ukrida mengikuti Sesi 2 Pelatihan Psychological First Aid (PFA) untuk membekali diri dengan keterampilan mendengarkan, berempati, dan memberikan dukungan psikologis awal secara tepat.

“Kalau ada teman yang sedang berduka, sebenarnya apa yang harus kita katakan?” Pertanyaan sederhana ini mungkin pernah muncul ketika seseorang di sekitar kita sedang menghadapi kehilangan, masalah keluarga, atau situasi sulit lainnya. Kita mungkin ingin segera bertanya apa yang terjadi, mengatakan “yang sabar ya”, atau menawarkan solusi. Namun, bagaimana jika justru bukan itu yang paling dibutuhkan? Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa dalam Sesi 2 Pelatihan Psychological First Aid (PFA) di Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) pada Jumat, 18 September 2026.

Salah satu peserta bernama Angeliq mengungkapkan bahwa jawaban atas pertanyaan itu mulai berubah setelah mengikuti pelatihan. Mendekati seseorang yang sedang mengalami tekanan ternyata bukan tentang seberapa cepat kita mengetahui ceritanya, melainkan seberapa peka kita melihat kebutuhannya. Ia belajar untuk tidak langsung meminta seseorang bercerita, tetapi memperhatikan kondisi yang sedang dihadapi, apa yang mungkin dibutuhkan, serta memastikan keselamatan sebelum memberikan bantuan. Baginya, lima langkah PFA, yaitu lihat, dekati, dengarkan, bantu, dan hubungkan, memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana memulai bantuan dengan tepat. 

Hal serupa dirasakan oleh peserta bernama Clara. Baginya, hal yang paling berkesan justru ketika materi PFA terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, misalnya ketika teman sedang berduka, keluarga sedang memiliki masalah, atau seseorang datang untuk bercerita. Dari praktik dan studi kasus, ia menyadari bahwa respons yang selama ini terasa wajar belum tentu selalu tepat. Ketika seseorang sedang menghadapi situasi sulit, kita tidak harus langsung menanyakan apa yang sedang ia rasakan. Memperhatikan perilaku, kondisi, dan apa yang dibutuhkan saat itu dapat menjadi awal yang lebih penting. 

Dari sana, dukungan tidak lagi dilihat hanya sebagai sesuatu yang besar. Mengatakan “yang tabah ya”, memberikan nasihat, atau menyentuh seseorang tidak bisa dilakukan begitu saja tanpa melihat situasi dan kenyamanannya. Sebaliknya, menawarkan tissue atau minum dapat menjadi bentuk perhatian sederhana yang membuat seseorang merasa ada yang peduli dan tidak sendirian. 

Melalui Sesi 2 Pelatihan PFA ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai cara memberikan pertolongan psikologis awal, tetapi juga belajar melihat kembali cara mereka hadir untuk orang lain. Membantu seseorang tidak selalu berarti memiliki jawaban atau solusi untuk semua masalah. Terkadang, bantuan dimulai dari kesediaan untuk hadir, mendengarkan tanpa menghakimi, memahami kebutuhan, dan membantu seseorang menemukan langkah berikutnya. Lewat hal-hal sederhana, kita dapat menjadi berkat bagi sesama.

 

Sharon Audry Sutedja - 502023029

Berita Populer

5 Berita populer bulan ini

Berita terkait