Siap Hadir di Masa Sulit: Mahasiswa Ukrida Belajar Psychological First Aid

Publish by Humas  |  10 September 2026  |  4

all psikologi

Fakultas Psikologi UKRIDA bersama PLP dan CHP menyelenggarakan Pelatihan Psychological First Aid (PFA) Level 1 bagi mahasiswa pada 4 September 2026.

Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) bekerja sama dengan Pusat Layanan Psikologi (PLP) dan Center for Health Psychology (CHP) Ukrida menyelenggarakan Pelatihan Psychological First Aid (PFA) Level 1 bagi mahasiswa Ukrida pada Jumat, 4 September 2026. Pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan ini dibawakan oleh Dr. Yasinta Astin Sokang, M.Psi., Psikolog.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja menghadapi pengalaman yang dapat menimbulkan tekanan, seperti kehilangan orang terdekat, kecelakaan, bencana, kekerasan, konflik keluarga, atau situasi lainnya. Pengalaman tersebut bisa memengaruhi kondisi fisik, perasaan, pikiran, dan perilaku seseorang. Pada kondisi seperti inilah kehadiran dan dukungan dari orang-orang sekitar menjadi sangat penting. Tetapi, niat baik untuk membantu saja belum tentu cukup. Bantuan perlu diberikan dengan cara yang tepat supaya orang yang sedang mengalami tekanan merasa aman dan didukung, bukan justru merasa semakin tidak nyaman.

Melalui pelatihan ini, peserta diperkenalkan pada Psychological First Aid sebagai pertolongan pertama untuk seseorang yang sedang menghadapi situasi sulit. PFA bertujuan membantu orang tersebut merasa lebih aman, didengarkan, dan mendapatkan bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Peserta mempelajari lima langkah utama PFA, yaitu LIHAT, DEKATI, DENGARKAN, BANTU, dan HUBUNGKAN. Melalui kelima langkah tersebut, peserta belajar untuk memperhatikan keamanan dan kebutuhan yang mendesak; mendekati seseorang dengan tetap menghargai batas kenyamanannya; mendengarkan tanpa memaksa orang tersebut untuk bercerita; membantu menentukan langkah praktis yang realistis; dan menghubungkannya dengan keluarga, teman, komunitas, tenaga kesehatan, psikolog, atau sumber dukungan lain yang diperlukan.

Pelatihan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi, diskusi kasus, demonstrasi, latihan keterampilan, dan simulasi. Peserta tidak hanya mempelajari konsep PFA, tetapi juga berlatih menghadapi situasi yang mungkin mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Peserta juga membagikan pengalaman mereka dalam menghadapi situasi nyata yang mereka alami.

Salah satu kasus yang dibahas adalah situasi ketika dua orang teman sedang bertengkar, lalu salah satunya meminta kita untuk memihak. Dalam kondisi seperti ini, peserta belajar untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan cerita dari satu pihak. Penolong perlu menjaga sikap objektif, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghormati keputusan seseorang apabila ia belum ingin bercerita.

Kasus lainnya menggambarkan seorang teman yang mulai sulit berkonsentrasi setelah mengalami kedukaan. Meskipun berulang kali mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, ia hampir selalu kembali membicarakan kehilangan yang dialami. Dalam situasi tersebut, peserta diajak untuk melihat kondisi secara lebih menyeluruh, termasuk kemungkinan adanya beban masalah lain yang turut memengaruhi. Apabila tidak ditemukan faktor lain, penolong dapat mengajak temannya berbicara secara empatik mengenai perbedaan antara perkataan dan kondisi yang terlihat. Percakapan ini perlu dilakukan dengan hati-hati, tanpa memaksa, menyalahkan, atau merasa paling mengetahui apa yang sedang dialami orang tersebut.

Peserta juga diajak memahami bahwa penolong perlu memperhatikan kondisi dirinya sendiri. Dalam situasi tertentu, penolong dapat ikut terbawa emosi atau teringat pada pengalaman pribadi. Karena itu, mengenali batas kemampuan diri merupakan bagian penting dalam memberikan bantuan. Jika situasi berada di luar kemampuan penolong, meminta bantuan dari pihak yang lebih kompeten merupakan langkah yang tepat. PFA tidak menuntut seseorang untuk menyelesaikan semua masalah atau menggantikan peran psikolog dan tenaga profesional lainnya. Peran penolong adalah memberikan dukungan awal dan pertama secara aman serta membantu orang tersebut memperoleh bantuan lanjutan bila diperlukan.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa Ukrida diharapkan dapat menerapkan keterampilan PFA dalam kehidupan sehari-hari serta ikut membangun komunitas yang lebih peduli, manusiawi, dan tidak menghakimi. Semangat ini sejalan dengan nilai Blessed to Be a Blessing, sebab setiap mahasiswa diajak menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya untuk menolong sesama. Agar dapat menolong, kita tidak harus menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi oleh orang lain. Hal sederhana seperti hadir, mendengarkan dengan tulus, memahami kebutuhan, dan membantu seseorang menemukan dukungan yang tepat pun dapat sangat berarti. Melalui langkah sederhana ini, kita bisa menjadi berkat untuk orang lain.

 

Michelle Laurent - 502023002